Sang fajar menampakkan keindahan fatamorgana alam di ufuk timur, suara burung cicit bersahutan menyambut sang raja siang, sejuknya butiran embun mulai menetes meninggalkan hijaunya daun, sunyinya pagi mulai terusik berganti hiruk piruk kehidupan manusia,…..
Di sudut alam kehidupan manusia, nampak Faiz berjuang demi masa depan, demi harapan dan kebahagiaan orang tuanya….Seorang pria yang hanya mengandalkan IQ karunia sang Pencipta, perawakan sederhana, wajah dan penampilan jauh dari impian kaum hawa.
“Sudah tiga tahun aku di kota ini, menggulirkan pemikiran, mengikuti aliran waktu, berkutak dengan teori-teori kuliah, demi selembar Ijazah lima tahun ke depan,….Kampus megah UNHAS yang berdiri angkuh, hanya memberikan secuil ilmu yang berarti, civitas academic yang tidak pernah sampai pada tujuan keilmuan dan keilmiahnya, mencetak ribuan sarjana yang tidak siap bersaing setiap tahun…..” ucap Faiz dalam bathin, seraya melangkah meninggalkan Pondok menuju kampus yang notabene dikenal sebagai Kampus Merah.
“Apakah aku juga akan termasuk di antara mereka, keluar sebagai Sarjana Teknik, yang hanya bermodalkan nama besar Kampus atau sekedar untuk memperoleh titel sarjana untuk memperpanjang namaku,….sementara kuliah tidak memberikan gemblengan ilmu yang akan berdaya guna bagi kami mahasiswa di masa depan….” Lanjut Faiz dalam hati, seraya menghela nafas dalam-dalam menyaksikan fenomena kampus yang semrawut dalam segala hal.
Suasana kampus masih sunyi, Faiz telah memasuki koridor Fakultas Teknik, dan melangkah mendekati tangga di Sipil, kemudian….
“Hai Chal,… ada kuliahmu hari ini,…”Terdengar suara menyapanya dari arah Himpunan Sipil. Ichal nama panggilan dari teman-temannya.
“Hai Amrin,…yach aku ada kuliah pagi, dan kamu bagaimana…?” Ujar Faiz ketika berbalik ke arah suara yang menyapanya dan mengenali pemilik suara itu, Amrin temannya dari jurusan Sipil, satu gugus waktu Ospek-Pozma.
“Gimana khabarnya,… aku dengar dari teman-teman, kamu hebat di beberapa semester lalu, nilaimu rata-rata A plus,…. Wah aku bisa belajar dong sama kamu,…”ujar Amrin tersenyum kagum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Ah,…soal seperti itu dibesar-besarkan,… semua mahasiswa bisa mendapatkan nilai baik, jika kita masih dapat berpikir … kamu pun bisa, buktinya kamu ada di kampus ini, seandainya kamu tidak berpikir maka kamu tidak akan pernah ada di teknik, bagaimana…..?” Ujar Faiz merendah sambil tertawa menerima uluran tangan sobatnya.
“Oh yach,… kapan-kapan aku ke Pondokmu, boleh khan…?” ujar Amrin sambil membakar dan menawarkan sebatang Sampoerna Mildnya.
“Ada-ada saja kamu,…Aku tidak pernah melarang temanku datang, apalagi kamu,… terima kasih aku tidak merokok kalau pagi,…Maaf yach,… aku harus naik, siapa tahu Dosennya sudah datang…” ucap Faiz sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan lebih lima menit.
“Baiklah sobat,… semoga sukses terus…” ujar Amrin tersenyum.
“Ok, aku naik dulu,… sampai ketemu lagi…” ujar Faiz seraya beranjak melewati anak tangga ke lantai III Elektro.
Suasana di lantai III mulai ramai, sebagian ruang kuliah mulai menjalankan fungsinya sebagai wadah transfer ilmu, ruang yang kadang terasa sempit, pengap dan panas akibat tidak seimbangnya jumlah mahasiswa dan fasilitas kampus.
“Alhamdulillah, dosen belum masuk,….”ucap Faiz ketika sampai di PBT 303, terlihat beberapa teman sedang duduk bercengkrama membunuh waktu.
“Hai Chal,… duduk di sini….” Teriak Yudi dari bangku tengah.
“Hai Yud,.. udah lama datang,…”balas Faizal dengan tersenyum mengangguk mengambil tempat duduk di samping temannya.
“Yach,… takut terlambat, soalnya dosen kurang toleransinya, disiplin banget, sementara dia belum datang hingga kini,…” ujar Yudi setengah mengeluh.
“Kamu koq nggak punya rasa syukur, kita telah diberi toleransi terlambat limabelas menit, aku saja sudah terlambat delapan menit tadi,…” ujar Faiz tersenyum melihat sobatnya yang kelihatan masih mengantuk.
Sementara dari arah pintu, beberapa teman bergegas masuk mengambil tempat duduk, selang beberapa detik, Dosen muncul di ambang pintu dengan menjinjing tasnya yang mungkin berisi ratusan lembaran teori rumit…
“Selamat pagi semua,…” ucapnya sambil membetulkan letak kacamata minusnya.
“Pagi Pak,…” ujar mahasiswa serempak.
“Hari ini kita masuk pembahasan baru, Teori Analisa Laplace Dalam Berbagai Permasalahan Teknik….” Ujar Dosen sambil membuka buku tebalnya.
Mulai menjelaskan teorinya, dan memberikan contoh Kasus beserta solusinya, sejalan waktu berlalu tampak beberapa mahasiswa mulai jenuh dan pura-pura menyimak tapi tidak mengerti teori kuliah yang diberikan dosen. Wajah kusut terlihat di wajah mereka disertai keluhan kecil, setelah dosen memberikan tugas beberapa nomor soal untuk dikumpul pada pertemuan berikutnya,… suasana perkuliahan yang monoton diwarnai interaksi sosial yang sedikit kaku.
Seratus dua puluh menit berlalu, kuliah diakhiri dengan absen ulang oleh dosen,… sebagian mahasiswa lega dan beranjak meninggalkan ruangan setelah dosen keluar lebih dahulu….
“Yud,… masih ada kuliahmu hari ini,…kuliahku cuma satu,… dan aku mau ke perpustakaan pusat untuk menyegarkan pikiran dengan cerita fiksi…”ujar Faiz sambil beranjak bersandar di pagar koridor lantai III.
“Yach,… masih ada kuliah, sekarang juga waktunya,… besok ketemu lagi,…dan aku ke PBT 304, OK….” Ucap Yudi mengangguk. menyebut ruang kuliahnya.
“OK,… aku pergi sekarang, …”ujar Faiz tersenyum kemudian melangkah pergi.
Faiz menyusuri koridor sepanjang lantai III elektro, tersenyum simpul membalas sapaan teman, senior maupun yunior yang dilewatinya. Dia sempatkan diri sejenak untuk melihat papan pengumuman di depan kantor jurusan elektro mencari informasi yang mungkin penting baginya, setelah beberapa menit kemudian, dia meninggalkan tempat itu, menyusuri koridor Fakultas MIPA melewati Laboratorium Komputer MIPA, dari jauh terlihat beberapa mahasiswa lalu lalang di depan perpustakaan yang berada di Lantai II Gedung Pusat Administrasi Kampus.
Sambil melihat ke arah lantai dasar dimana nampak beberapa mahasiswa kumpul bareng, dia melangkah mendekati pintu masuk perpustakaan namun,…
“Bum,…..Brak,….” Terdengar suara buku berjatuhan setelah dia tidak sengaja menabrak seorang mahasiswi.
“Oh,… Maaf dik,… aku tidak sengaja, tadi aku melihat ke arah kumpulan mahasiswa di bawah sana , dan tidak melihatmu,… “ujar Faiz seraya minta maaf kemudian jongkok untuk memungut buku-buku gadis itu di lantai.
“Tidak apa-apa Kak,… aku juga salah, jalan sambil nunduk,…”balas gadis itu ikut jongkok membantu memungut bukunya.
Tanpa mereka sadari, mereka saling bertatapan, diam kemudian….
“ Oh yach,… ini bukunya,… sekali lagi maaf yach,…” ujar Faiz tersenyum mengulurkan beberapa buku ke tangan gadis itu, sementara gadis itu tersenyum malu setelah menyadari mereka barusan saling bertatapan,…
“Terima kasih kak,… dan kakak mau masuk ke dalam,…”tanya sang gadis jengah seraya memalingkan wajahnya ke pintu masuk perpustakaan.
“Yach,… aku mau cari buku fiksi buat segarkan pikiran,… kepalaku terasa hang akibat jejalan rumus Laplace tadi, “ujar Faiztersenyum memandang ke arah gadis di depannya.
“Ayo, kita masuk, … aku mau kembalikan beberapa buku yang aku pinjam minggu lalu,..” ujar gadis mengajak melangkah masuk.
Mereka berdua melangkah mendekati bagian penerima pinjaman buku, Gadis itu mengeluarkan kartu anggota perpustakaannya pada seorang pengawai, dan menyerahkan ketiga buku yang dipinjamnya,… selang beberapa detik semuanya telah selesai, dan…
“Kak,… ayo kita ke sana , kebetulan aku juga suka baca cerita fiksi sebagai selingan,…” ujar gadis itu tersenyum.
“Ayo,… “ ujar Faiz singkat sambil membalas senyum gadis itu.
Setelah mendapatkan buku cerita fiksi, mereka mencari tempat yang mereka rasa cocok untuk membaca,….
“Bagaimana kalau kita duduk di sana , di tempat itu agak tenang sedikit,..” usul Faiz seraya menunjuk ke suatu tempat yang agak sepi.
“Ok,… ayo kita ke sana ,…” ujar gadis itu mengiyakan. Kemudian mengambil tempat duduk saling berhadapan, yang dibatasi sebuah meja.
“Dari tadi kita bicara, dan jalan sama,… tapi belum tahu nama masing-masing,.. oh yach namaku Muhammad Faizal, biasanya dipanggil Ichal,…” ujar Faizal memperkenalkan diri sambil senyum mengulurkan tangan bersalaman.
“Yunia Intan Yasmira,….cukup dipanggil Yuni….” Ujar gadis itu balas memperkenalkan diri sembari mengulurkan pula tangannya.
Keduanya kembali saling bertatapan, dan tangan mereka tetap bersalaman, hingga mereka sadari apa yang terjadi, kembali Vani tersenyum malu,…dan akhirnya mereka tertawa kecil menyadari kelakuan mereka….
“Namamu bagus, secantik dan semanis orangnya,….dari wajahmu yang manis putih lembut itu, aku rasa secantik hatimu,…” ujar Faiz memuji gadis manis di depannya.
“Ah,… kakak, jangan berkata begitu, aku malu,…” ujar gadis itu dengan wajah bersemu merah sambil menunduk menghindari tatapan laki-laki di depannya.
“Bagaimana kalau aku memanggilmu ‘Intan..’ panggilan khusus untukmu dariku,…aku suka nama itu, Intan merupakan permata yang melambangkan kemurnian cinta kasih seorang manusia…”ucap Faizal tersenyum sambil menatap mata gadis itu.
“Terserah kakak,… aku suka panggilan itu khan potongan namaku juga, tapi…. Kakak jangan menatapku seperti itu,….” Ujar Intan seraya mengipaskan tangan di depan wajahnya, sementara wajahnya masih terlihat merah karena malu.
“Memangnya kenapa,… dimataku ada yang menakutkan,..ha-ha-ha..” ujar Faiz tertawa kecil melihat sikap grogi Intan.
Sejenak kesunyian melanda mereka,… merasakan isi hati yang saling berbicara….
“Gadis yang manis,… secantik hatinya,….aku merasakan debaran di hatiku, tapi mungkinkah aku dapat memiliki hatinya, dia terlalu tinggi untuk dimiliki, dia memiliki nilai yang sulit digapai oleh orang seperti aku yang tidak punya apa-apa,…” ujar Faiz dalam hati seraya menatap gadis itu.
“Kamu, nggak usah grogi begitu, aku memandangmu karena kamu manis, cantik, putih lembut, dan yang paling penting hatimu tak kalah cantik dengan wajahmu, dan kakak mengagumi ciptaan Allah,…” ujar Faiz memecahkan kesunyian sambil tersenyum.
“Ah, sudah…. Kakak dari Fakultas dan jurusan apa,…” ujar Intan mengalihkan pembicaraan,…
“Teknik elektro’97, dan adik sendiri….?” Jawab Faiz seraya balik bertanya.
“Ekonomi jurusan Manajemen ‘2000,..mahasiswa baru,…” balas Intan sambil tertawa kecil.
“Terus kakak tinggal dimana,…. Kalau aku tinggal di Kompleks Perumahan Permata Hijau,…” ujar Intan menjelaskan Alamat tempat tinggalnya.
“Wah,.. kakak malu beritahu,…”ucap Faiz senyum menggantung ucapannya
“Kenapa malu,…” ujar Intan sambil mengerutkan keningnya
“Soalnya aku tinggal di kost, daerah Pondokan dekat Workshop, Pondok Gede namanya, sayang belum ada line telepon,…” ujar Faiz sambil senyum.
“Ngapain malu, aku biasa ke Pondokan, tempat temanku, dan aku tidak menilai orang dari penampilannya, ataupun status sosialnya, tapi aku menilai dari pribadinya yang tulus ikhlas…”ujar Intan sambil senyum.
Tiga jam berlalu, mereka terlihat semakin akrab, dan buku cerita fiksi yang mereka ambil tidak sempat terbaca hingga mereka beranjak ingin pulang….
“Kak,… sudah jam satu lewat,… aku mau pulang,….” Ujar Intan sambil melihat Rolexnya.
“Yach,… kakak juga mau pulang, ayo kita keluar,…”ujar Faiz seraya bangkit dari tempat duduknya terus melangkah bersama keluar dari perpustakaan.
“Bagaimana, jika kamu tunggu mobil di depan Workshop, sekalian kamu temani aku jalan ke arah Pondokan,….” Usul Faiz setelah mereka berada di depan Bank BRI Kampus.
“Yach,… tapi kakak harus temani aku tunggu mobil,….” Ujar Intan mengangguk senyum.
Sambil bercanda, mereka menyusuri koridor MPM, kemudian menuruni tangga menuju pelataran Parkir Teknik….
“Kak,… kapan kita ketemu lagi,…” tanya Intan sambil memandang ke arah laki-laki di sampingnya.
“Kapan saja kamu mau, besok atau lusa pun bisa … kamu hubungi HP bututku jika mau ketemu,…” ujar Faiz senyum melirik gadis yang berjalan di sisinya.
“Apa kamu nggak malu jalan sama aku,… apalagi aku orangnya biasa-biasa, nggak punya apa-apa, tampang jelek, dan tidak gagah, apalagi body kurus begini,…” ujar Faiz menambahkan sambil melihat reaksi di wajah Intan.
“Ngapain malu, memangnya aku hanya mau jalan dengan orang gagah,… aku sudah bilang tadi, aku tidak melihat penampilan seseorang, tapi kehalusan pribadinya….atau kakak yang nggak mau jalan dan ketemu aku,…” ujar Intan sedikit cemberut.
“Laki-laki siapa yang mau nolak kalau diajak jalan sama cewek secantik kamu,….” Ujar Faiz tersenyum sambil mengacak rambut Intan.
“Sorry, aku menyentuhmu, tadi aku merasa senang dan tidak sadar….”ujar Faiz sambil menarik cepat tangannya.
“Tidak apa-apa,….”ujar Intan singkat.
Tak lama kemudian, mereka menyeberang jalan dan berdiri menunggu mobil di bawah sebuah pohon,…
“Kak,… telepon aku yach,…aku tunggu sebentar malam teleponnya,…” ujar Intan senyum merajuk.
“Insya Allah,… kakak telepon, cuma kakak takut….” Ujar Faiz menggantung kalimatnya sambil tersenyum menatap Intan.
“Takut kenapa,….”ujar Intan dengan kening berkerut menunggu jawaban.
“Takut ada yang marah, takut ada yang datang menggebuk aku,….” Ujar Faiz tertawa kecil.
“Takut sama Papaku atau kakakku,…”tanya Intan sambil tersenyum simpul.
“Keluargaku tidak pernah mempersoalkan aku mau berteman dengan siapa, yang penting orang yang saya kenal itu baik,…” ujar Intan menjelaskan perihal keluarganya.
“Bukan takut karena itu, tapi takut sama cowokmu, nanti dikira aku mau merebut kamu darinya,…” ujar Faiz menimpali sambil tertawa melihat mimik wajah Intan.
“Siapa bilang aku punya cowok,… walau aku punya, aku tetap mau ketemu dengan kakak” ujar Intan sambil tersenyum menatap.
“Jadi kamu nggak punya pangeran,… maksud aku yang memiliki hatimu,…” ujar Faiz seraya menatap mata Intan mencari kejujuran.
“Yach,… kenapa,…?” ujar Intan tunduk dengan wajah bersemu merah karena ditatap.
Kembali kesunyian membelenggu mereka, merasakan getaran aneh di hati masing-masing….
“Aku yakin gadis ini jujur, matanya menunjukkan kepolosan dan kejujuran,…”bathin Faiz seraya tersenyum menggenggam tangan Intan.
Intan membiarkan tangannya digenggam, dan mencoba untuk melihat ke mata pria di depannya, mencari sesuatu….
“Intan,… kakak janji akan meneleponmu sebentar malam, mungkin sekitar jam delapan atau jam sembilan malam,…” ujar Faiz tersenyum kecil sambil tetap menggenggam tangan Intan.
“Sekarang saatnya Adik untuk pulang,…sudah jam dua lewat,…OK…!” ucap Faiz menambahkan kemudian melihat ke arah timur menunggu datangnya Mobil Kampus.
“Baik kak, aku tunggu telepon kakak,…” ucap Intan sambil tersenyum.
“Nah,… itu ada mobil yang agak kosong,… naiklah….aku akan melihatmu pergi” ujar Faiz mengantar mendekati Mobil seraya melepaskan genggaman tangannya.
“Aku pergi kak,…” ujar Intan senyum sambil beranjak naik.
Mobil Kampus berlalu membawa Intan pulang, setelah jauh dari pandangannya, Faiz melangkah melintasi halaman Workshop menuju Pondok Gede. Getaran aneh di hati masih terasa, meninggalkan benih-benih harapan akan cinta kasih,…
Sebelum ke Pondok, dia sempatkan ke Warung untuk makan, kemudian kembali ke pondok untuk istirahat,…
“Hai Chal,… darimana, dari kampus yach,… tadi ada temanmu datang mencari, katanya mau mengembalikan bukumu,…” ujar Udin mengulurkan sebuah buku kepadanya ketika dia membuka kunci kamarnya.
“Terima kasih Kak Udin, aku memang dari kampus, dan aku istirahat dulu kak, aku lelah sekali,…”ujar Faiz senyum menerima bukunya, kemudian melangkah masuk ke kamarnya.
Dia membaringkan tubuhnya yang terasa penat kelelahan dan mencoba untuk tidur, namun bayangan wajah dan senyum Intan bermain di pelupuk matanya,…
“Aku jujur tertarik padamu Intan, sesuatu dalam dirimu telah membuat hatiku luluh padamu, tapi aku takut pada suatu hal, kamu sekuntum bunga yang mahal untuk dimiliki,… kamu dari keluarga kalangan atas, sementara aku tidak memiliki apa-apa…”ucap Faiz dalam hati.
Selang beberapa menit, Dia larut dalam mimpinya,…seiring sang waktu mulai meninggalkan teriknya matahari.
********************
to be continued


0 comments:
Posting Komentar